
| | | | | PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 1)  | | | | 
| 
| Ketika kecil, ia dikenal sebagai anak badung, pintar, dan tergila-gila pada sepak bola. Meski hanya bisa main gitar sekadarnya, ternyata dia diam-diam menyimpan obsesi jadi anak band. Awal Juni lalu, matahari masih membakar bumi ketika telepon genggam pria itu berbunyi. Meski sangat capai setelah dua hari berturut-turut naik panggung di wilayah Jabodetabek sampai tengah malam, ia tetap bergegas berangkat dari rumahnya di Kawasan Bintaro, Tangerang, menuju Ancol, Jakarta Utara. Malam itu ia akan tampil bersama band Naif dan Element. Setiba di Taman Impian Jaya Ancol, pria berambut gondrong itu langsung menuju ke sebuah panggung megah setengah jadi yang dipenuhi seperangkat alat musik bervoltase ribuan watt. Ia membaur dengan kru dan teknisi band-nya yang tengah sibuk menyetel dan mengoreksi sound system. Di tengah hiruk pikuk yang memekakkan telinga, ia berusaha memasang telinga baik-baik. Setiap kali mendengar nada-nada yang kurang pas, ia langsung meminta krunya membetulkan atau menyetel kembali. Baru satu jam kemudian ia merasa puas. Begitulah gambaran jadwal dan kegiatan Ari Lasso belakangan ini. Minggu berikutnya, ia harus terbang ke Kalimantan untuk tampil di beberapa tempat di Samarinda dan Balikpapan. Sepulang dari situ, ia langsung ke Surabaya untuk mengadakan serangkaian show. Hari-hari yang sangat melelahkan, tapi sekaligus membahagiakannya. Menengok ke belakang, setidaknya hingga tujuh tahun lalu, kesibukan dan kebahagiaan semacam itu rasanya mustahil dirasakan ayah tiga anak ini. Selain dicopot sebagai vokalis utama Dewa 19, band yang membesarkan namanya, ia pun terpuruk dalam kegelapan yang pekat. Terjerat putaw dengan parah --bahkan ia pernah berusaha ‘mencari mati’ dengan menggunakannya secara over dosis-- dan jatuh miskin karena semua uangnya ludes untuk membeli barang-barang haram itu. Kedua orang tuanya sudah angkat tangan menghadapi kelakuan anak bungsu mereka itu. Ternyata, Tuhan masih mengasihinya. Buktinya, sampai saat ini ia masih diberi kesempatan menyaksikan indahnya matahari terbit dan terbenam. Ia pun merangkak lagi dari nol, selangkah demi selangkah. Mencoba bersolo karier di tahun 2001, dewi keberuntungan ternyata berpihak pada pria kelahiran Madiun, 17 Januari 1973, itu. Album Sendiri Dulu (2002), yang diprediksi hanya terjual 60.000 keping, ternyata laku keras hingga mencapai 400.000 keping. Wajarlah kalau belum lagi lima tahun bersolo karier, ia sudah mampu memiliki rumah mewah berlantai dua, lengkap dengan kolam renang, beberapa mobil keluaran terbaru, serta sejumlah tabungan dan deposito. Tidak hanya itu. Lewat album-album cintanya, berbagai penghargaan musik juga berhasil diraihnya sejak album solo pertamanya dilempar ke pasaran. Antara lain, sebagai penyanyi solo terbaik versi AMI-Sharp 2002, Anugerah Planet Muzik Singpura 2005, penghargaan platinum dari perusahaan rekaman Aquarius Musikindo 2004, dan masih banyak lagi. Tahun ini ia juga diangkat sebagai duta budaya oleh Wali Kota Surabaya. ‘SI ENDUT’ YANG GILA BOLA Ari Bernardus Lasso adalah putra bungsu dari lima bersaudara pasangan Bartholomeus Bernard Lasso dan Srie Noerhida. Saat Srie mengandung Ari, Bernard Lasso masih menjabat sebagai Asisten Perum Perhutani Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Warga sekitar biasa memanggilnya Pak Sinder. Ia membawahi sekitar 40-60 orang pegawai, termasuk lima resort polisi hutan yang harus mengamankan sekitar 600-700 hektar hutan. Jarak dari rumahnya --di Kompleks Perhutani Banaran (Sragen)-- ke kan–tor sekitar 30 km, sementara dari Madiun jaraknya sekitar 50 km. Tak lama sebelum Ari lahir, Bernard diangkat sebagai Ajun Administratur Perum di Saradan, sehingga mereka sekeluarga pun pindah ke Saradan, sekitar 40 kilometer dari Madiun. Bernard mengenang anak bungsunya itu sebagai anak yang sangat aktif dan lucu, sehingga hampir semua orang menyukainya. Empat kakaknya semua berambut keriting, hanya Ari yang berambut lurus. Selain itu, bentuk kepalanya pun ‘istimewa’. ”Ari tidak pede dengan rambut pendek, karena bentuk kepalanya peyang,” kata Vitta Dessy, istrinya, sambil tertawa. Konon, kalau rambutnya dipotong cepak, bagian belakang kepalanya akan terlihat rata. Itu sebabnya, sejak remaja ia tidak pernah memendekkan rambutnya. Ia baru memotong rambutnya ketika menikah. Menurut Bernard, dibanding keempat anaknya, Ari memang paling nakal dan kurang mengerti etika. Padahal, keempat kakaknya tergolong anak manis dan sangat patuh. ”Sejak kecil dia memang ndugal, tidak paham sopan santun, dan kurang hormat terhadap orang tua. Dia itu sak karepe dhewe, semaunya sendiri,” kenang Bernard, tertawa. Di mata kakak-kakaknya, Ari juga dikenal sangat menjengkelkan, karena tukang ngeyel. Ari merasa, masa kanak-kanaknya sangat indah. Meski ayahnya merupakan orang nomor satu di kompleks perumahan dinas itu, ia dan kakak-kakaknya dibebaskan bermain dengan siapa saja, termasuk dengan anak-anak kampung di sekitar situ. Ia dibebaskan main becek-becekan di sawah, mandi di kali, main sepak bola, mencari burung di hutan, dan ikut menggembalakan kambing atau kerbau milik teman-temannya. Kalau sedang tidak sibuk, ayahnya menemani Ari bermain layang-layang di lapangan. ”Aslinya saya itu wong ndeso…,” ujar Ari, tertawa. Sejak mulai masuk SD (di SDN Banaran) tubuhnya juga jadi makin tambun, sehingga ia dijuluki ‘Si Endut’ oleh kakak-kakaknya. Di kelas 2 SD saja, beratnya sudah 35 kg. Dan, makin subur lagi setelah ia menjalani sunat (khitan) pada awal SMP. Tapi, berbeda dari umumnya anak-anak bertubuh subur yang jadi malas bergerak dan doyan tidur, Ari justru tergolong sangat aktif. Ia juga berotak cemerlang. ”Sejak masih kanak-kanak, kecerdasan Ari memang sudah menonjol. Terlihat dari cara bicara, kreativitasnya, atau sikap kritisnya,” kenang Bernard, penuh kebanggaan. ”Sejak mulai bisa membaca, ia menjadi maniak buku. Kalau diberi uang, ia jarang membeli mainan, yang dibelinya selalu buku.” Buku-buku koleksinya memang bertumpuk, meski bacaan favoritnya saat itu baru sebatas buku cerita dan komik, seperti Rin Tin Tin, petualangan Dr. Karl May, Shatting Bulls, Apache, Pendekar dari Bukit Manoreh, Sabuk Intan, dan sebagainya. Saat duduk di kelas 4 SD, ia bahkan sudah punya perpustakaan sendiri, yang buku-bukunya ia sewakan kepada teman-temannya. Hasilnya dipakai lagi untuk menambah koleksi buku dan untuk jajan. Ari juga sangat fasih bila diajak bicara tentang sepak bola. ”Dia betul-betul hafal semua jadwal pertandingan liga di luar negeri, termasuk nama-nama pemainnya. Rupanya, diam-diam dia rajin membaca koran-koran saya,” kenang Bernard, tertawa. Gara-gara ‘gila bola’ itu pula, Ari yang baru duduk di kelas 3 SD mengajak teman-teman di kompleks rumahnya mendirikan klub sepak bola Perhutani yang diberi nama Persatuan Sepakbola Bayu Rimba. Sebagai motor klub tersebut, Ari rela bekerja keras untuk menghimpun dana. Ia giat mengajak anak-anak pejabat Perhutani untuk bergabung sebagai pemain sekaligus penyandang dana. Ari sendiri selalu tampil sebagai sponsor utama, yang siap menutup kekurangan biaya operasional klub tersebut. Berbeda dari teman-teman seusianya yang mendapatkan uang dari orang tua, Ari justru mengumpulkan dana dari hasil ‘bisnisnya’ sendiri. Baik dari hasil penyewaan buku-buku perpustakaannya, juga dari ‘gajinya’. Ia memang selalu mendapat ‘gaji’ bila membantu ibunya mengurus dagangan. Hebatnya, meski banyak kesibukan, di sekolah ia tetap pelanggan peringkat pertama. Bersambung |
| |